Lanskap Geopolitik AI yang Terfragmentasi
Pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini telah menjadi instrumen geopolitik dan kekuatan strategis yang menentukan ekonomi serta keamanan nasional. Saat ini, kendali atas desain dan mesin AI didominasi oleh negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Dominasi ini semakin diperkuat dengan rantai pasok semikonduktor global yang terkonsentrasi di berbagai negara: desain cip di Amerika Serikat, peralatan litografi di Belanda, memori di Korea Selatan, material dan peralatan di Jepang, serta fabrikasi cip di Taiwan.
Kesenjangan akses, tata kelola, dan rantai pasokan teknologi AI antara negara maju dan berkembang menciptakan tantangan tersendiri. Sebagai respons, berbagai negara seperti India, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mulai berupaya membangun kedaulatan AI melalui investasi besar-besaran pada model, perangkat lunak, dan infrastruktur fisik.
Posisi Strategis Indonesia
Indonesia memandang keterlibatan dalam rantai pasok AI bukan sekadar pilihan ekonomi, melainkan keharusan untuk menghindari risiko menjadi 'rule-taker' atau sekadar penerima aturan dalam tata kelola global. Fokus utama Indonesia adalah membangun kemampuan AI yang cepat dan andal guna mendukung kepentingan pemerintahan serta pembangunan nasional.
Dalam menjaga kedaulatan teknologi, Indonesia menerapkan kebijakan luar negeri bebas aktif. Hal ini tercermin dari sikap Indonesia yang bergabung dalam Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia (WAICO) yang dibentuk China pada 2026, namun tetap terbuka untuk menjalin kerja sama strategis dengan pihak Amerika Serikat melalui inisiatif Pax Silica yang fokus pada pengamanan rantai pasokan teknologi canggih.
Membangun Kapasitas Nasional
Upaya Indonesia menuju kedaulatan teknologi diwujudkan melalui penguatan infrastruktur domestik. Saat ini, Indonesia telah memiliki Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC). Selain itu, langkah konkret telah diambil dengan menjalin kerja sama strategis bersama perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm Limited, untuk pengembangan desain cip.
Partisipasi aktif dalam rantai pasok global ini dipandang sebagai jalan bagi Indonesia untuk mengamankan posisi tawar di masa depan. Meskipun mekanisme operasional dari inisiatif global seperti Pax Silica dan WAICO masih terus berkembang, langkah Indonesia untuk membangun basis desain cip mandiri menjadi fondasi penting untuk memastikan bahwa kemajuan AI dapat memberikan manfaat langsung bagi kepentingan nasional di tengah persaingan blok global.